Tumbuh Kembang Gigi Anak Kebahagiaan Kita Semua
Dipublikasikan pada: 14 Jul 2026
Dokter gigi itu kapan tumbuh?
Gigi secara umum dibagi menjadi 3 tahap yaitu gigi anak, gigi bercampur dan gigi dewasa. Secara umum tumbuh kembang gigi anak dimulai dari usia 6 bulan sampai usia 33 bulan. Setelah itu baru akan berganti dengan gigi dewasa di usia 6 tahun sampai 21 tahun.
Dokter kalau gigi anak suka berlubang bagian di depan karena apa ya dokter ?
Gigi berlubang pada anak itu biasanya aku sebut Early Childhood Caries (ECC) kondisi ditemukannya satu atau lebih gigi yang berlubang, hilang akibat karies, atau memiliki permukaan yang ditambal pada anak berusia di bawah 6 tahun. Early Childhood Caries (ECC) terjadi dengan beberapa tahapan diawali :
1. Tipe I: Mild to Moderate (Ringan sampai Sedang)
· Karakteristik: Terdapat lubang gigi yang terlokalisasi (terisolasi) pada gigi seri (insisivus) atau gigi geraham (molar) susu.
· Penyebab: Umumnya dipicu kombinasi makanan padat/semi-padat yang manis serta kurangnya kebersihan rongga mulut.
· Usia: Biasanya ditemukan pada anak usia 2 hingga 5 tahun.
2. Tipe II: Moderate to Severe (Sedang sampai Parah)
· Karakteristik: Kerusakan gigi (lesi karies) secara khusus menyerang permukaan luar (labial) atau permukaan dalam (lingual) pada gigi seri depan rahang atas. Gigi geraham bawah bisa ikut terdampak, namun gigi seri bawah biasanya masih sehat.
· Penyebab: Sangat erat kaitannya dengan kebiasaan dot atau menyusu botol/ASI yang salah hingga anak tertidur malam (nursing bottle caries).
3. Tipe III: Severe (Parah / Karies Rampan)
· Karakteristik: Kerusakan gigi yang sangat luas dan masif, hampir menyerang seluruh gigi di dalam mulut, termasuk gigi seri depan bagian bawah yang biasanya paling tahan terhadap karies.
· Penyebab: Akumulasi dari pola makan yang sangat tinggi gula, kebiasaan menyusu yang buruk, serta abainya kebersihan mulut dalam waktu lama.
Jadi hati hati ya untuk orang tua dilihat Kembali untuk sang adek dirumah.
Dampak dari gigi berlubang bagian depan kenapa dokter?
Dampak dari terhambat atau sudah mengalami kehilangan gigi sejak dini biasanya akan mempengaruhi proses tumbuh kembang atau erupsi gigi anak (Delayed Tooth Eruption/DTE) membawa dampak yang berantai bagi kesehatan mulut, kondisi fisik, hingga aspek psikososial anak.
1. Gangguan Struktur Gigi dan Rahang (Maloklusi)
· Ketika sebuah gigi terlambat tumbuh, ruang yang seharusnya menjadi tempatnya berisiko menyempit akibat pergeseran gigi-gigi di sekitarnya.
· Gigi Berjejal (Crowding): Gigi permanen yang terlambat muncul terpaksa erupsi di luar lengkung rahang yang normal karena ruangnya telah menyusut, sehingga memicu susunan gigi yang berantakan.
· Gigi Gagal Tumbuh (Impaksi): Keterlambatan kronis dapat menyebabkan benih gigi terjebak di dalam tulang rahang atau tertutup oleh jaringan gusi yang menebal, sehingga memerlukan tindakan bedah atau ortodonti di kemudian hari.
· Sitasi Jurnal: Kondisi gigi berjejal dan penyusutan ruang ini secara signifikan meningkat pada anak yang mengalami keterlambatan kematangan tulang akibat masalah nutrisi kronis.
2. Penurunan Fungsi Mengunyah dan Risiko Malnutrisi Sekunder
· Gigi geligi berfungsi sebagai alat mastikasi (mengunyah) utama. Jika pertumbuhannya terhambat, fungsi ini akan terganggu.
· Kesulitan Mengunyah: Anak tidak dapat menghancurkan makanan dengan optimal, sehingga penyerapan nutrisi oleh tubuh menjadi tidak maksimal.
· Siklus Stunting: Hambatan pertumbuhan gigi sering kali diawali oleh masalah gizi buruk (stunting). Namun, gigi yang telat tumbuh ini justru memperparah kondisi gizi anak karena mereka kesulitan makan, menciptakan siklus malnutrisi yang berkepanjangan.
· Sitasi Jurnal: Terganggunya fungsi mastikasi akibat masalah perkembangan gigi secara klinis terbukti menurunkan kualitas asupan makanan pada fase tumbuh kembang anak.
3. Gangguan Bicara (Fonetik)
Artikulasi Tidak Sempurna: Gigi (terutama bagian depan/insisivus) sangat penting dalam membantu membatasi aliran udara saat memproduksi suara. Anak dengan pertumbuhan gigi depan yang terhambat sering kali mengalami gangguan bicara atau cadel karena tidak mampu melafalkan huruf-huruf dental secara tepat.
4. Dampak Psikososial dan Rasa Percaya Diri
· Krisis Kepercayaan Diri: Anak-anak yang memiliki susunan gigi tidak rapi atau ompong lebih lama dibanding teman sebayanya rentan menarik diri dari lingkungan sosial.
Apakah sekarang sudah terlambat dokter karena gigi anak saya sudah berlubang bagian depannya?
Tidak ada kata terlambat untuk mencegah untuk tidak menjadi masalah kompleks untuk adek dirumah salah satu caranya ada:
1. Modifikasi Pola Makan dan Kebiasaan Menyusu (Dietary Management)
· Hindari Menyusu Sampai Tertidur: Jangan membiarkan anak tertidur dengan botol dot berisi susu formula, jus, atau cairan manis.
· Batasi Makanan yang tinggi karbo: Kurangi frekuensi pemberian camilan tinggi gula di antara jam makan utama seperti makan cemilan atau minuman yang berasa.
· Ganti Botol ke Cangkir: Biasakan anak minum menggunakan gelas/cangkir biasa.
2. Menjaga Kebersihan Rongga Mulut (Oral Hygiene Habits)
· Bersihkan Mulut Sejak Bayi: Sebelum gigi tumbuh, usap gusi bayi dengan kain kasa basah setelah menyusu.
· Sikat Gigi 2 Kali Sehari: Segera setelah gigi pertama muncul, sikat gigi anak dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur) menggunakan sikat gigi berbulu lembut.
3. Optimalisasi Penggunaan Fluoride
· Gunakan Pasta Gigi Berfluoride: Fluoride sangat krusial untuk memperkuat struktur email gigi dari asam bakteri.
· Takaran Usia < 3 Tahun: Gunakan pasta gigi dengan kandungan fluoride seminimal mungkin, cukup seulas tipis.
· Takaran Usia 3–6 Tahun: Gunakan pasta gigi berfluoride seukuran biji kacang polong (pea-sized) dan pastikan anak meludahkannya setelah menyikat gigi.
4. Kunjungan Dini ke Dokter Gigi
· Pemeriksaan Pertama: Bawa anak ke dokter gigi dalam waktu 6 bulan setelah gigi pertama tumbuh, atau maksimal saat anak berusia 12 bulan.
· Apabila sudah menjadi berlubang besar bisa dilakukan penambalan dan pemberian fluoride varnish untuk mencegah gigi dewasanya mengalami berlubang juga
Referensi:
1. American Academy of Pediatric Dentistry. (2018). Guideline on dental growth and development. The Reference Manual of Pediatric Dentistry, 40(6), 158–164. aapd.org
2. American Academy of Pediatric Dentistry. (2021). Policy on early childhood caries (ECC): Classifications, consequences, and preventive strategies. The Reference Manual of Pediatric Dentistry, 83–86. aapd.org
3. Anil, S., & Anand, P. S. (2018). Early childhood caries: Epidemiology, aetiology, and prevention. Frontiers in Pediatrics, 6(157), 1–9. nih.gov
4. Astuti, E. S. Y. (2020). The aetiology, impact and management of early childhood caries (ECC). Interdental: Jurnal Kedokteran Gigi, 16(2), 74–79. unmas.ac.id
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Kapan anak mulai menggosok gigi? Seputar Kesehatan Anak IDAI. idai.or.id
6. Kementerian Kesehatan RI. (2024). Menjaga kesehatan gigi anak usia dini. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI. kemkes.go.id
7. Patel, N. S., Mehta, M., Lala, H. S., Parikh, H., Patel, M. M., Thakor, U. B., Fu, Y., & Desai, V. (2025). A review of early childhood caries: Risk factors, prevention, and management. Cureus, 17(5), e60123. nih.gov
8. Setiawati, F. (2024). Karies anak usia dini (Early Childhood Caries): Suatu pendekatan epidemiologi oral dalam bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. Universitas Indonesia. ui.ac.id
9. Widradji, M., & Sutadi, H. (2016). Prevention and treatment of early childhood caries (ECC). Journal of Medicine & Health, 1(3), 254–263. maranatha.edu
10. World Health Organization. (2019). WHO expert consultation on public health intervention against early childhood caries. World Health Organization.