Penyakit Sistemik dan Perawatan Gigi Apa Yang Perlu Diketahui

Dipublikasikan pada: 14 Jul 2026

Hipertensi dan Perawatan Gigi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas normal secara terus-menerus (TD normal: <120/80 mmHg; prehipertensi 120-139/80-89 mmHg). Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, dan gangguan organ lainnya. 

Pada penderita hipertensi, kondisi tekanan darah yang tidak terkontrol berisiko timbulnya komplikasi, terutama ketika dilakukan tindakan gigi invasif (seperti pembedahan dan cabut gigi). Lonjakan tekanan darah akibat nyeri atau kecemasan yang timbul ketika perwatan gigi berpotensi memicu masalah kardiovaskular, seperti perdarahan berkepanjangan ketika perawatan. Secara umum, sejumlah pedoman klinis membedakan tingkat risiko tindakan berdasarkan angka tekanan darah: 

1.      Perawatan non-invasif (pemeriksaan, edukasi, foto ronsen, aplikasi fluor) umumnya tetap dapat dilakukan meskipun hipertensi atau diabetes belum optimal, selama pasien dalam kondisi stabil. 

2.      Perawatan invasif ringan (tambal, scaling, PSA) dapat dilakukan bila tekanan darah <180/110 mmHg dan gula darah sewaktu <200 mg/dL. 

3.      Perawatan bedah memerlukan kontrol yang lebih baik karena adanya risiko perdarahan berkepanjangan, infeksi, dan penyembuhan luka. 

-          <140/90 mmHg: aman untuk perawatan bedah (pencabutan sederhana dan bedah mulut seperti odontektomi, bedah periodontal, implan). 

-          <160/100 mmHg: masih aman dilakukan perawatan bedah dengan kontrol stress dan monitoring tekanan darah. 

-          ≥ 180/110 mmHg: perawatan bedah belum dapat dilakukan dan perlu dilakukan pengendalian tekanan darah. 

Sebelum melakukan tindakan perawatan gigi, dokter gigi biasanya akan mengukur tekanan darah pasien. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa tindakan dapat dilakukan dengan aman. Apabila tekanan darah sangat tinggi, terutama mencapai 180/110 mmHg atau lebih, tindakan yang tidak bersifat darurat umumnya akan ditunda sampai tekanan darah terkendali. 

Apa saja yang perlu diperhatikan penderita hipertensi sebelum melakukan perawatan gigi? 

Bagi penderita hipertensi, tetaplah mengonsumsi obat hipertensi sesuai anjuran dokter dan beristirahat yang cukup sebelum perawatan. Pada sebagian besar pasien dengan hipertensi yang terkontrol, pemberian anestesi/obat bius pada tindakan bedah tetap dapat digunakan dengan menyesuaikan kondisi pasien. 

Penyakit Jantung dan Perawatan Gigi

Penyakit jantung meliputi berbagai kondisi, seperti penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung, kelainan katup jantung, gagal jantung, serta riwayat pemasangan alat pacu jantung. Pasien dengan penyakit jantung tetap dapat menjalani perawatan gigi dan aman dilakukan pada kondisi jantung yang stabil (tidak sedang mengalami nyeri dada, sesak nafas, atau serangan jantung dalam waktu dekat).  

Apa saja yang perlu diperhatikan pada penderita penyakit jantung yang akan melakukan perawatan gigi? 

1.      Konsumsi obat pengencer darah 

Sebagian besar pasien dengan riwayat penyakit jantung mengonsumsi obat pengencer darah. Penggunaan obat pengencer darah ini dapat mempengaruhi proses pembekuan darah ketika dilakukan tindakan gigi invasif, seperti pencabutan, scaling, dan pembedahan. Biasanya, untuk perawatan gigi yang invasif pada pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah, obat akan dihentikan beberapa hari sebelum dilakukan tindakan gigi untuk mencegah terjadinya risiko perdarahan yang berkepanjangan. Namun penghentian obat ini perlu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis jantung yang menangani dan tidak boleh dihentikan sendiri karena dapat meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke. 

2.      Risiko infeksi pada lapisan jantung (endokarditis) 

Pada beberapa pasien dengan kelainan jantung tertentu, bakteri dari rongga mulut dapat masuk ke aliran darah saat dilakukan tindakan gigi yang menyebabkan perdarahan (seperti pencabutan dan scaling). Pada kondisi tertentu, bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi pada lapisan bagian dalam jantung atau disebut endokarditis, meskipun komplikasi tersebut jarang terjadi. Oleh karena itu, pada pasien dengan risiko tinggi biasanya dokter gigi  akan meresepkan obat antibiotik profilaksis sebelum tindakan gigi sebagai upaya pencegahan  terhadap komplikasi tersebut. Pemberian obat antibiotik sebelum tindakan ini, tidak diresepkan pada semua pasien dengan penyakit jantung, hanya pada pasien dengan kondisi tertentu yang berisiko tinggi. 

 

Diabetes dan Perawatan Gigi 

Diabetes merupakan penyakit yang menyebabkan kadar gula darah tinggi. Kondisi ini dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga penderita lebih mudah mengalami infeksi, termasuk di dalam rongga mulut. Penderita diabetes lebih berisiko mengalami gusi berdarah, penyakit periodontal (jaringan penyangga gigi), mulut kering, infeksi jamur, serta luka yang lebih lama sembuh setelah pencabutan gigi atau tindakan lainnya. 

Hubungan diabetes dan penyakit gusi bersifat dua arah. Diabetes yang tidak terkontrol dapat memperparah penyakit gusi, sedangkan infeksi pada gusi juga dapat menyebabkan kadar gula darah lebih sulit dikendalikan. 

Pedoman klinis membedakan tingkat risiko tindakan berdasarkan kadar gula dalam darah: 

1.      Perawatan non-invasif (pemeriksaan, edukasi, foto ronsen, aplikasi fluor) umumnya tetap dapat dilakukan meskipun diabetes belum terkontrol, selama pasien dalam kondisi stabil. 

2.      Perawatan invasif ringan (tambal, scaling, PSA) dapat dilakukan dengan aman bila pemeriksaan gula darah sewaktu <200 mg/dL. 

3.      Perawatan bedah memerlukan kontrol yang lebih baik karena adanya risiko perdarahan berkepanjangan, infeksi, dan penyembuhan luka. Untuk perawatan bedah dapat dilakukan pada kondisi gula darah terkontrol. Tindakan pencabutan gigi sederhana dapat dilakukan saat gula darah sewaktu <180-200mg/dL. Sedangkan untuk tindakan odontektomi, pemasangan implan, dan bedah periodontal idealnya dilakukan ketika gula darah sewaktu <180 mg/dL atau biasanya juga dilakukan pemeriksaan HbA1c yang umumnya harus <7-8%. 

Apa saja yang perlu diperhatikan pada penderita diabetes mellitus yang akan melakukan perawatan gigi? 

-          Perawatan gigi sebaiknya dilakukan pada pagi hari. 

Gula darah biasanya lebih stabil di pagi hingga siang. Apabila menggunakan suntik insulin, usahakan jadwal ke dokter gigi tidak bertepatan dengan waktu insulin sedang bekerja paling kuat, supaya tidak tiba-tiba lemas dan pusing (gula darah drop). 

-          Konsumsi obat seperti biasa sebelum berangkat ke dokter gigi. Jangan puasa terlebih dahulu atau datang dalam keadaan belum makan, kecuali dokter memang meminta demikian. 

-          Apabila gula darah terkontrol dengan baik, prosedur gigi apa pun umumnya aman dilakukan seperti pada orang tanpa diabetes. 

-          Kemungkinan luka yang lebih lama sembuh apabila gula darah sering tinggi. Karena itu, setelah cabut gigi atau operasi kecil di rongga mulut, penting menjaga kebersihan rongga mulut dengan lebih baik dan mengikuti anjuran dokter supaya tidak terjadi infeksi. 


Penyakit Sistemik dan Perawatan Gigi Apa Yang Perlu Diketahui