Asam Urat Bukan Cuma Penyakit Orang Tua
Dipublikasikan pada: 14 Jul 2026
Asam Urat Itu Apa, Sih?
Asam urat adalah penyakit akibat kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi sehingga membentuk kristal kecil di persendian. Kristal inilah yang menyebabkan nyeri, bengkak, kemerahan, dan rasa panas pada sendi.
Asam urat sebenarnya adalah hasil akhir dari pemecahan zat purin dalam tubuh. Purin berasal dari makanan tertentu dan juga diproduksi secara alami oleh tubuh. Jika jumlahnya berlebihan atau ginjal tidak mampu membuangnya dengan baik, maka kadar asam urat akan meningkat.
Banyak orang mengira asam urat hanya disebabkan makanan tertentu. Padahal, sekitar 70% kadar asam urat dipengaruhi oleh proses alami tubuh dan kemampuan ginjal membuang asam urat. Jadi meskipun makan dijaga, gaya hidup dan kondisi kesehatan tetap berpengaruh.
Kenapa Asam Urat Bisa Terjadi?
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko asam urat antara lain:
- Pola makan tinggi purin
Contohnya jeroan, seafood, daging merah, dan minuman manis tinggi gula. - Kurang minum air putih
Membuat pembuangan asam urat lewat urin menjadi tidak optimal. - Obesitas atau berat badan berlebih
Berat badan berlebih meningkatkan produksi asam urat dalam tubuh. - Konsumsi alkohol
Alkohol menghambat pengeluaran asam urat oleh ginjal. - Riwayat keluarga
Faktor genetik juga dapat berperan. - Penyakit tertentu
Seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan ginjal.
Gejala Asam Urat yang Sering Dialami
1. Biasanya keluhan muncul tiba-tiba, terutama malam atau dini hari.
Gejalanya meliputi:
- Nyeri sendi hebat
- Sendi bengkak dan kemerahan
- Terasa panas saat disentuh
- Sulit berjalan atau bergerak
- Paling sering menyerang jempol kaki, lutut, pergelangan kaki, dan jari tangan
Kenapa Serangan Asam Urat Sering Muncul Tengah Malam
Saat tidur, suhu tubuh menurun dan tubuh lebih sedikit cairan. Kondisi ini membuat kristal asam urat lebih mudah terbentuk di sendi sehingga nyeri muncul mendadak saat malam atau dini hari.
Mitos vs Fakta Asam Urat
❌ Mitos:
“Semua sayur bikin asam urat naik.”
✅ Fakta:
Sayuran seperti bayam dan kangkung boleh dikonsumsi dalam jumlah wajar. Risiko terbesar justru berasal dari jeroan, seafood, alkohol, dan minuman tinggi gula.
❌ Mitos:
“Asam urat cuma penyakit orang tua.”
✅ Fakta:
Anak muda juga bisa terkena, terutama jika pola makan tidak sehat dan kurang olahraga.
❌ Mitos:
“Kalau nyeri hilang berarti sembuh.”
✅ Fakta:
Kadar asam urat bisa tetap tinggi meskipun nyeri sudah hilang. Tetap perlu kontrol dan menjaga pola hidup sehat.
Bahaya Jika Asam Urat Tidak Diobati
Jangan dianggap sepele ya!
- Kerusakan sendi permanen
Kristal asam urat dapat merusak tulang dan sendi. - Benjolan asam urat (tophi)
Benjolan keras dapat muncul di siku, jari, atau telinga. - Batu ginjal
Penumpukan kristal juga bisa terjadi di ginjal. - Gangguan aktivitas sehari-hari
Nyeri sendi dapat menghambat berjalan dan bekerja.
Makanan yang Perlu Dibatasi
Tinggi Purin ❌
- Jeroan
- Otak
- Usus
- Seafood tertentu (kerang, sarden, udang)
- Daging merah berlebihan
- Kaldu daging pekat
Lebih Aman Dikonsumsi ✅
- Air putih
- Buah-buahan
- Sayur secukupnya
- Telur
- Susu rendah lemak
- Nasi dan karbohidrat secukupnya
Cara Mencegah dan Mengontrol Asam Urat
Preventif
Yang bisa dilakukan sehari-hari:
- Minum air putih cukup
- Batasi makanan tinggi purin
- Kurangi minuman manis dan alkohol
- Rutin olahraga ringan
- Jaga berat badan ideal
- Tidur cukup dan kelola stres
Kuratif
Jika sudah muncul nyeri sendi:
- Segera periksa ke dokter
- Konsumsi obat sesuai anjuran
- Jangan sembarang menghentikan obat
- Kompres dingin pada sendi yang nyeri
Rehabilitatif
Pada kondisi berat:
- Latihan sendi untuk menjaga pergerakan
- Fisioterapi bila diperlukan
- Kontrol rutin kadar asam urat
Tips Simpel untuk Masyarakat
“3M Lawan Asam Urat”
✅ Minum cukup
✅ Makan bijak
✅ Move your body (aktif bergerak)
Sumber:
Cha, Y., Kim, H. and Lee, Y. (2024) ‘Pathophysiology and Treatment of Gout Arthritis’, Hip & Pelvis, 36(1), pp. 1–14. Available at: PubMed Central (PMC) (Accessed: 8 June 2026).
FitzGerald, J.D. et al. (2020) ‘2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout’, Arthritis Care & Research, 72(6), pp. 744–760. Available at: PubMed (Accessed: 8 June 2026).
Dalbeth, N., Merriman, T.R. and Stamp, L.K. (2021) ‘Pathophysiology of Gout’, Nature Reviews Rheumatology, 17(6), pp. 321–335. Available at: PubMed (Accessed: 8 June 2026).
Skoczyńska, M. et al. (2020) ‘Pathophysiology of Hyperuricemia and its Clinical Significance’, Postepy Higieny i Medycyny Doswiadczalnej, 74, pp. 312–323. Available at: PubMed Central (PMC) (Accessed: 8 June 2026).
Weaver, J.S. et al. (2021) ‘Gouty Arthropathy: Review of Clinical Manifestations and Treatment, with Emphasis on Imaging’, Journal of Clinical Medicine, 10(1), p. 166. Available at: PubMed Central (PMC) (Accessed: 8 June 2026).
Zhang, Y. and Chen, C. (2022) ‘Gout and Diet: A Comprehensive Review of Mechanisms and Management’, Nutrients, 14(17), p. 3525. Available at: PubMed (Accessed: 8 June 2026).